Selasa, 08 Desember 2009

Cerita Di Ibukota Jawa Tengah

Awal pembuatan teaser sangsaka dilakuin di Semarang, sebuah kota yang amat panas.. Hari itu bener-bener panas, padahal hari sebelumnya kami baru menginjakkan kaki di Semarang setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam dari Jogja..


Gio layaknya seorang turis asing, lengkap dengan RIBBENnya, Doank menunggu cewek lewat sambil menyengir dan melempar senyum.. Gandes hanya teresnyum kecut karena tukang cendol yang ditunggunya tak juga lewat

"Cendol..Cendol.."

"Edo...Tukang Cendolnya mana ni? Gw udah haus", kata Ditonk kepada Edo
"Tonk, itu lo ada tukang bakso lewat, beli kuah bakso aja mau ga?", Edo njawab Dhitonk..

"Jadi gitu ceritanya, tadi aku liat Tukang Cendol ketabrak truck di perempatan depan", Avy menjelaskan kepada teman-temannya..
"Kasian yaaa..", sahut Nita..
"Iyaaa.. kasian...", Gio menimpali..
"Terus mati vy?", tanya Doank..
Mike hanya mendengar keheranan..

"Tenang nita, nanti Abang beliin es ya.. ", Sanjay memflirting Nita dan menghiburnya..

Akhirnya kami tetap tertawa bersama karena kami adalah SATU KELUARGA..

SATU DALAM SANGSAKA..

www.sangsakathemovie.blogspot.com

Selamat Datang 21..


sangsaka films mengucapkan Selamat Ulang Tahun buat Chief Of Location kita, Maria Amanda Geraldine..

Happy Blasztdey and keep this spirit...

"Semoga amal dan ibadahnya diterima dan segala impian serta harapannya yang belum terwujud dapat terkabulkan.. selamat ulang tahun kawann.."

Senin, 07 Desember 2009

Kala Semarang Membuat Kami Satu



Semarang Ceria yang terekam dalam Kamera.. Sebuah cerita di balik pembuatan teaser.



Walau udah berjarak dua bulan, cerita dan gambar tak lekang oleh waktu untuk dibagikan. Dan kami akan membagi canda, agar tawa kami menjadi lebih lepas.




Inilah gaya dari seorang yang seharusnya mengabadikan momen.. Dept. BTS kok malah jadi model? terus siapa yang jadi BTS? hahaha..


Dedikasi seorang scriptwriter yang hingga harus jongkok setinggi itu demi mengambil gambar.. Salut EdoKarensa..

Nantikan cerita-cerita kami lainnya..


Jumat, 23 Oktober 2009

RISET SEMARANG DAN TEASER

Jumat pagi, 16 Oktober 2009, sekitar pukul 6.30, beberapa kru SangSaka telah bersiap diri di kampus. Kami, yang terdiri dari Dept. Story (Pandhu, Gandes, Condro Bayu, Purba, Miko), Dept.Art (Edo, Ryan), Dept.Camera (Yudo), Dept.Editing (Doank), Talent Manager (Nita, Della), Loc.Manager (Ditha), Dept.Documentation (Gio), serta Pimpro (Avy) hendak berangkat ke Semarang untuk melakukan riset sekaligus mengeksekusi teaser yang telah kami rencanakan. Sekitar pukul 8.00 kami berangkat melewati jalur Magelang - Ambarawa. Setelah 3,5 jam perjalanan, bersaing dengan truk dan bis besar, menghirup segala macam polusi jalanan, kami pun berhasil tiba di Semarang, tepatnya di rumah Yohan Bayu yang akan menjadi base camp kami selama 3 hari. Ryan, salah satu kru) musti bersyukur karena ban sepeda motornya baru sobek setiba di basecamp. Coba bannya kempes di jalan Ambarawa, ketika dia tertinggal cukup jauh di tanjakan di belakang truk dengan Della... hehehe...

HARI PERTAMA, 16 Oktober 2009

Sekitar jam 12.30, dua mbak mentel (Talent Manager) sudah meluncur dari basecamp hendak me-lobby dan mencari para talent untuk produksi teaser pada hari kedua besok. Sorenya, kru-kru lain (termasuk Yohan Bayu) memulai survey di kawasan Kota Lama, Gereja Blenduk. Sesuai namanya, kawasan ini memang dipenuhi bangunan-bangunan yang cukup kuno. Kebanyakan bangunan memang didirikan ketika pemerintah kolonial masih berkuasa. Menjelang maghrib kami mampir sebentar ke danau polder Tawang. Sempat tertipu juga melihat aliran air yang tenang dan hijau, lanskap yang bagus di tengah kota. Tetapi begitu mendekat, bau-bauan yang tak sedap meruap-ruap di hidung. Air di bagian tepinya seperti saus tomat warna hijau yang agak kental. (bayangkan nikmatnya berenang di danau ini.. haha...). Setelah matahari tenggelam, kami kembali ke basecamp untuk beristirahat dan mandi.

Sekitar jam 10 malam, ditambah Mike yang baru datang dari Jogja, kami melanjutkan survey ke Semawis, kompleks Pecinan yang cukup terkenal di Semarang. Di sini, yang kami mendapatkan kesan dan suasana yang benar-benar khas Cina. Stand-stand makanan minuman berjajar di sepanjang jalan. Beberapa stand menjual perhiasan. Ada juga stand karaoke yang melantunkan lagu-lagu Mandarin. Rombongan kemudian dipecah. Ada yang ke gang Lombok (Kapal Chengho dan Klenteng Tay Kak Sie), ada yang menelusuri gang lain, dan ada yang langsung makan karena sudah tidak kuat menahan lapar.

Setelah dirasa cukup, kami berlanjut ke Sam Poo Kong. Klenteng ini merupakan kompleks terluas yang kami temui. Kuilnya tidak hanya satu, tetapi tiga. Itupun masih ditambah beberapa bangunan lain. Di klenteng ini kami juga menemui lilin-lilin merah besar yang lebih banyak dibandingkan di Klenteng Tay Kak Sie. Jangan tanyakan harganya. Cukup bayangkan Anda membakar beberapa sepeda motor atau mobil (ada lilin yang besarnya seukuran tugu).
Dirasa cukup, kami kembali ke basecamp. Dept.Story melanjutkan brainstorming treatment di Cushion Cafe. Yang lain kembali ke kamp penampungan, kecuali Nita dan Della yang menginap di rumah teman yang lain.



HARI KEDUA, 17 Oktober 2009

Setelah treatment dimantapkan oleh Dept.Story melalui diskusi dini hari, eksekusi dilakukan. Sekitar pukul 10.00 WIB, 12 orang kru ditambah Rio (Art Dir.) telah menyerbu Gg.Lombok untuk mengambil gambar di kapal CengHo dan Klenteng Besar. Di sana, para talent yang telah bersedia dan sukarela membantu telah bersiap. Briefing pun dilakukan, dan segera: "Action!"

Jam 10 di semarang sudah seperti jam 12 di jogja, sangat panas dan menyengat; membuat energi para crew cepat drop saat awal - awal produksi (selain menghitamkan kulit tentunya). Ditambah lagi beberapa talent tidak seperti yang diharapkan. Ada juga talent yang sudah pergi lebih dulu sehingga Nita dan Della harus mencari talent dadakan (on the spot).
Siang setelah pengambilan gambar di Klenteng Tay Kak Sie, Condro Bayu harus pamitan lebih dulu ke Jogja karena kesibukannya di tempat lain.

Beberapa kejadian lain yang membuat tim story harus membuat rencana dan treatment baru untuk menyesuaikan dengan waktu dan kondisi lapangan yang ada. Salah satunya adalah dengan melakukan pergantian talent. Bayu, sang storyboard-er kami terpaksa menjadi talent dadakan.
Sempat muncul rasa tidak puas ketika kami selesai eksekusi di tempat itu. Ada sejenis kekurangan yang sulit didefinisikan ketika konsep telah matang dan tergambar sempurna dalam pikiran tetapi yang terekam dalam kamera tidak memberikan suatu kelegaan. "Seandainya bisa, gambaran dalam pikiranku langsung aku capture!" kata Pandhu di sela-sela waktu istirahat.

But life must go on. Sore harinya, setelah Mike, Bayu, dan Yudo selesai dengan still photography, kami segera berlanjut ke salah satu ruas gang di Jalan Semawis untuk ekseskusi scene lain. Tak perlu berlama-lama karena mengejar senja, kami berlanjut ke kawasan Gereja Blenduk, Kota Lama. Di sini, kami melanjutkan pengambilan gambar dengan talent. Setelah dirasa cukup, kami beristirahat sebentar di sana.

Menjelang maghrib, kami kembali ke Jalan Semawis untuk merekam suasana Pecinan malam hari. Namun karena kami datang terlalu awal, belum banyak orang yang datang. Kami pun menunggu di salah satu emper toko dan beristirahat di sana. Tiba-tiba hujan mengguyur daerah Semawis dan ini jelas menunda keramaian itu muncul.

Hujan tidak terlalu lama dan segera reda. Mike dan Yudo segera menyusuri jalanan ini untuk mengambil gambar. Sialnya, gambar yang didapat juga tak terlalu sesuai harapan karena orang-orang baru berdatangan ketika kami sudah hendak pulang.
Pukul 19.30 WIB, kami kembali ke basecamp dan mandi. Rencana makan di luar dibatalkan karena Tuan rumah telah sangat berbaik hati menyediakan makan malam. Sebelum beristirahat, Avy Karyadi, Sang PimPro mengajak kami melakukan evaluasi produksi hari itu dan briefing untuk eksekusi terakhir besok.



HARI KETIGA, 18 Oktober 2009

Pagi-pagi jam 5 kami sudah dibangunkan untuk segera mandi, demi mengejar matahari pagi di Sam Poo Kong. Nita dan Della mendahului ke lokasi untuk mempersiapkan talent dan tempat. Setelah sarapan dan beres-beres, kami langsung pamitan pada orang tua Yohan Bayu karena akan langsung pulang ke Jogja begitu selesai eksekusi di Sam Poo Kong.
Sekitar jam 7.30 kami tiba di Sam Poo Kong, briefing, menyiapkan tempat, mengarahkan talent, dan langsung mengambil gambar. Karena adegannya singkat, kami tidak berlama-lama. Selanjutnya, sambil menunggu jam 10 untuk mendapatkan perijinan masuk kuil, para kru berfoto-foto dulu di sana (buat dokumentasi, hehehe...)

Jam 10. Mike dan Yudo mendapat kehormatan untuk mengenakan kostum kebesaran kaisar dan hakim roda mas demi dapat masuk kuil (bayarnya mahal...). Berempat dengan Yohan Bayu dan Gio, mereka masuk bagian dalam kuil dengan seorang pemandu dan seorang fotografer. Sekitar 1 jam lebih mereka berkeliling di dalam dan mengambil gambar.



Sementara itu, di dekat perempatan jalan raya di luar klentheng, sebuah mobil terbakar. Pandhu, Doank, dan Purba segera berlari ke lokasi untuk mengabadikan peristiwa itu. Menurut saksi mata, mobil kijang itu sempat mengeluarkan asap dari AC sebelum ditinggal oleh pemiliknya dan kemudian terbakar. Tak berapa lama, pemadam kebakaran datang dan memadamkan api itu (ini intermezzo...).

Siangnya, setelah mampir di warung tahu gimbal dan es campur, kami kembali ke Jogja. Melihat kondisi para kru yang cukup memprihatinkan, mata berat, dan mulai berhalusinasi (contoh: Miko yang mengira detik di lampu merah sudah sampai angka 1, padahal masih 19 detik!), kami mampir ke Gua Maria Kerep Ambarawa untuk berdoa sekalian istirahat. Jam 16.15 kami melanjutkan perjalanan ke Jogja dan kemudian kembali ke rumah masing-masing. Besok kami akan melakukan eksekusi adegan lain di Jogja.

Terima kasih atas dedikasi seluruh kru, dan juga semua pihak, termasuk juga talent yang telah membantu dengan sukarela.


Tetap nantikan teaser dari kami...


Tanpa kalian, tak ada Indonesia.

Kamis, 15 Oktober 2009

Persiapan Menuju Semarang, Recruitment, dan juga Schedulling.. Share

Ayo-ayo..masih ada beberapa posisi yang sampai sekarang masih tersisa banyak slot..

HEAD OF PRODUCTION :
- KATARINA HIBER DWILESTARI
- AVY KARYADI


DEPARTEMENT OF STORY
Director :
- PANDHU ADJISURYA
Ass. Director I :
- GANDES P.W
Ass. Director II :
- ALFONSUS CONDRO HERBAYU
Ass. Director III :
-PURBA WIRASTAMA
Scriptwritter :
- PANDHU ADJISURYA
- EDO KARENSA
- JATMIKO KRESNATAMA
Storyboard :
- YOHAN BAYU ARDHIKA


DEPARTMENT OF DOCUMENTATION
Director of Behind The Scene :
- DIAN CARITA
Ass. Director Behind The Scene :
- DANDY WICAKSONO
Camera Person
- GIOVANNY SAULLY
- MERIO FELINDRA
Still Photography :
- MICHAEL EKO


DEPARTEMENT OF CAMERA
Director of Photography :
- YUDO NUGROHO
- CALVIN DAMAS EMIL
Camera Person :
- MARIO ALFRIZKY
- YOHANES JANUADI
- NIKKO SUGIYANTO
- ALOYSIUS CATUR
Chief of Lighting :
- YOHAN BAYU ARDHIKA


DEPARTEMENT OF ART AND EQUIPTMENT
Art Director :
- STEVANUS RIO IRAWAN TANUWIDJAYA
- ANDREAS SANJAYA
- EDO KARENSA
Equiptment :
- NITI BAYU INDRAKRISTA
- BEATRIX DEWAN GANDA
- YOGI PRADITYO
- VINCENTIUS BUDHI
- (YOU)
- (YOU)
- (YOU)
- (YOU)
Wardrobe :
- (YOU)
- (YOU)


DEPARTMENT OF EDITING :
Chief of Editing :
- DONNIE PRIZA ADITHYA
Editor :
- YUNIAR KRIS SANTOSO
- DEDY PUTRA KESUMA
- STEFANUS ANDRE NUGROHO

COREOGRAPHER :
- ALOYSIA NINDYANA CARISSA DEVI
- PRIZKA ZAHRA
- STEVANUS RIO IRAWAN TANUWIDJAYA


MUSIC DIRECTOR :
- DONNIE PRIZA ADITHYA
- ASKA

LOCATION MANAGER :
- DHITA KARENSA
- SAM
- ADIT
- MAHESA
- DOMINICO

TALENT MANAGER
- GISELA AYU
- LIZA NOVIANA
- DELLA
- MARIA YANITA LIDWINA PATRIELLA
- RATIH KUSUMANINGRUM

Finance :
- MARIA GLADIOLIA
- YOU
- YOU

Persiapan Menuju Semarang, Recruitment, dan juga Schedulling.. Share

15 Oktober 2009..

Rapat akbar perdana SangSaka..Agenda rapat hari ini adalah untuk membahas dan juga membicarakan mengenai persiapan SangSaka dalam pembuatan teaser (trailer video, slide foto, serta dalam bentuk poster), pembentukan crew, serta juga penyusunan schedule SangSaka hingga medio Mei-Juni ke depan.

Dalam proses menuju ke Semarang, sempat terjadi sedikit kebingungan mengenai transportasi, namun akhirnya dapat diatasi, walau terpaksa divisi story, yang seharusnya tidak mengurusi hal-hal non-teknis diluar story sampai harus menyelesaikan permasalahan transportasi dan akomodasi selama di Semarang.

Untuk posisi serta jabatan-jabatan yang masih lowong, beberapa jabatan sudah terisi dengan masuknya seorang Music Director yang bernama Aska. Kemudian untuk memenuhi slot di departement of camera, diisi oleh Calvin Damas Emil alias Toink untuk posisi Director of Photography serta Aloysius Catur untuk posisi Camera Person..
Posisi lain yang masih banyak kosong, yaitu untuk posisi Equiptment diisi oleh Yogi Pradityo dan juga Budi, walau memang masih membutuhkan sekitar 6 orang lagi untuk memenuhi kuota divisi ini..
Divisi Manager Lokasi pun bernasib sama seperti Departement of Camera, dimana pada hari ini pun seleruh slot kosong telah terisi.. Dan yang mengisi adalah empat orang anak dari SanataDharma..
Terimakasih buat mereka yang sudah bersedia untuk membantu dan mensukseskan project ini..

Untuk Schedulling, tadi kedua orang PimPro dari SangSaka, yaitu Katarina Hyber dan juga Avy Karyadi membuat penjadwalan bahwa target terdekat untuk akhir bulan ini adalah selesainya teaser dan siap publish. Setelah itu, antara November hingga akhir November adalah pembuatan skenario. Sehingga awal Desember, skenario sudah selesai dan siap untuk dipresentasikan..
Setelah itu, proses masuk menuju casting talent, reading, pendalaman peran, hingga pemenhuan proses perijinan nantinya..

Seperti apakah SangSaka nantinya?
Nantikan teaser dari kami..

Coming Soon....

Brainstorm Dept. of Story with Dept. of Camera

13rd October 2009

Dengan rahmat Allah yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan dengan keinginan luhur, maka akhirnya dept. of story ngadain pertemuan bareng dept. of camera, di lobby kampus FISIP UAJY..
Pertemuan ini lebih banyak mbhas tentang konsep trailer dan teaser yang bakal dibikin di Semarang nanti..
Dept. of Camera yang dipimpin sama DOPnya, Yudo Nugroho sependapat dengan apa yang telah direncanain sama dept. of story.. Cuma ada sedikit penambahan angle-angle dan masukan tentang pengambilan gambar..
Tapi sejauh ini, trailer memang sudah siap untuk diproduksi..

Mau tau seperti apa? Selentingan isu dari pimpro menyebutkan bahwa batas akhir pengambilan gambar baik di Jogja maupun di Semarang, atau Kudus harus selesai pada Senen, 19 Oktober nanti..

nantikan trailer sangsaka, yang akan segera dipublish.. tapi kapan?
nantikan saja perkembangannya..

Selasa, 13 Oktober 2009

5 Jam Peperangan Menuju Teaser

Minggu, 11 Oktober 2009..

Dijadwalkan untuk berkumpul pada pukul 18.00, tapi pada kenyataannya, departemen story baru berkumpul sekitar pukul 18.30.. Itupun dengan minus awak kami, penulis skenario, Edo Karensa..
Di tempat yang sudah di tentukan, justru Departement Behind The Scene, sudah siap sedia untuk mengabadikan gambar para konseptor-konseptor cerita..

Saat sang waktu telah menunjukkan pukul 18.30, peperangan segera dimulai.. Jatmiko Kresnatama, sebagai scriptwriter membuka perang dengan menceritakan karakter-karakter tokoh serta jalan cerita versi dia, kemudian disusul oleh Purba Wirastama, Condro Herbayu, Edo Karensa, dan kemudian Bayu Ardhika.. Setelah mendengar cerita versi masing-masing baru Gandes P.W dan Pandhu Adjisurya, menguruni konsep-konsep yang memang menjadi batasan-batasan ide dari konseptor-konseptor lain..

Peperangan konsep, ideologi, fakta-fakta, simbol dan semiotik menjadi seru ketika satu ide harus dikritisi dan dikomentari oleh awak yang lain..
Setiap orang berusaha mempertahankan argumennya masing-masing walau akhirnya harus muncul juga yang terbaik dai apa yang terbaik..

Konsep opening untuk membuka sebuah trailer pun dipikirkan dan juga dikonsep dalam berbagai versi, dan untuk menemukan konsep yang kemudian disepakati bersama pun membutuhkan waktu hampir satu jam..

Kemudian pembicaraan mulai memanas dengan munculnya banyak ide-ide lain, namun tanpa disadari fragment demi fragment mulai terbentuk, scene demi scene mulai tertata dan kemudian setelah hampir 5 jam departemen of story berBrainstrom di tempat tersebut, sampai juga pada pembicaraan mengenai ending dari trailer tersebut..

Seperti apakah trailer sangsaka nantinya?

Tunggu saja...

Kami para awak tukang konsep cerita atau kami biasa menyebut diri sebagai departement of story...

Pandhu Adjisurya (Director)
Gandes P.W (Ass. Director I)
Alfonsus Condro Herbayu (Ass. Director II)
Purba Wirastama (Ass.Director III)
Jatmiko Kresnatama (Scriptwriter)
Edo Karensa (Scriptwriter)
Yohan Bayu Ardhika (Storyboard)

Senin, 12 Oktober 2009

Sosialisasi Sang Saka

Sabtu, 11 Oktober 2009..

Sang Saka mulai diperkenalkan secara publik di FISIP ATMAJAYA, dan kebanyakan awak sangsaka adalah berasal dari keanggotaan 12.9 AJ KINE KLUB dan beberapa orang di luar 12.9 AJ KINE KLUB yang memang mempunyai semangat untuk memproduksi sebuah film..

Presentasi dan Sosialisasi dipimpin oleh director Sang Saka, Pandhu Adjisurya dan dipimpin oleh Assisten Sutradara I, Gandes P.W..
Presentasi yang berlangsung dari pukul 10.30 hingga pukul 12.30 itu membicarakan banyak hal.. Mulai dari pengenalan tujuan pembuatan project ini, kemudian memperkenalkan para penggagas project ini, dan tentunya tak terlupa adalah latar belakang Sang Saka ini sendiri..

Kemudian setelah itu, sosialisasi ini banyak membicarakan tentang apa saja yang telah berjalan di proses pra-produksi sangsaka ini.. Antara lain, bercerita tentang hasil riset, dan juga pembentukan kru sementara..

Lanjut, sosialisasi membahas mengenai aspek pendanaan Sang Saka, yang sedikit banyak, berbicara bahwa sebelum mendapat Produser yang akan menginvestasikan dananya di project ini, maka seluruh kru sepakat untuk menjadikan project ini sebagai Project Karya, dimana setiap elemen akan benar-benar merasakan bahwa project ini sepenuhnya hasil keringat dan uji kreativitas dan wawasan setiap elemen..

Sosialisasi ini pun membahas mengenai beberapa pos atau job yang masih kosong.. Pada awalnya para peserta sosialisasi masih malu-malu untuk mendaftarkan atau memberanikan diri mengisi pos-pos yang kosong di setiap departemen tersebut.. Namun akhirnya, 70% pos telah terisi.. Seluruh peserta bersepakat untuk berkomitmen atas project Sang Saka ini, walaupun Pandhu dan Gandes telah memaparkan beberapa konsekuensi yang harus ditanggung ketika menjalankan project ini nantinya..

Singkat kata, sosialisasi Sang Saka, mendapat sambutan yang sangat baik..
Dan perjuangan untuk menggapai dan mensukseskan Sang Saka adalah dimulai dari sekarang..

"..mengapa terus seperti ini pah?.."
"..kamu buta ya?.."
"..buta apa pah? apa salahnya aku memperjuangkan negaraku sendiri?.."

Senin, 07 September 2009

Long Road to Temanggung..

6 September 2009

Pagi menyingsing.. Sekitar setengah 6 pagi itu, sms dari Gandes membangunkan orang-orang yang akan berangkat buat riset di Temanggung..
Ada gw, Mike, sama Doank.. merekalah orang-orang yang mengisi kamar gw.. hahahaa..

Kita kumpul di rumah Yudo, daerah Paingan (Maguwoharjo) yang cukup ramai di pagi itu, gara-gara ada drag-drag'an yang cukup rame.. Rencana awal keberangkatan itu jam 06.00 tepat, tetapi akhirnya molor beberapa menit, sekitar setengah jam.. karena insiden helm pecah yang dialami Mike..

Akhirnya, sekitar setengah 7 pagi itu, kami meluncur ke Temanggung.. Yudo bersama Mike menjadi pembuka jalan, disusul Doank sama gw, dan dibelakang ada Merio sama Gandes.. Tiga motor ini bersiap untuk menjelajahi dan mengeksplor kota Temanggung, terutama daerah Parakan yang terkenal dengan kampung China nya..

Setelah perjalanan yang lumayan panjang, sekitar 90 menit harus berlaga melawan deru dan debu asap-asap kendaraan, akhirnya kami berenam sampai di rumah Yudo, untuk transit dan sedikit melepas lelah.. Lumayan, karena kedatangan kami disana disambut dengan sangat baik.. Sarapan dengan makanan khas Temanggung pun tak lama tersaji di hadapan..

Udara segar di sana, benar-benar nyaris membuat kami terlena.. Rasanya, punggung ini ingin segera kembali menempel di lantai untuk kembali ke alam mimpi.. (apa sih..)

Tapi bener, gue ngerasa, kalo udara di sana cocok banget buat produksi.. gak panas, gak terik, sejuk.. tapi jelas ini malah bisa mengganggu produktifitas nantinya.. bayangin aja, kalo kru'nya terlena dengan kenyamanan itu dan akhirnya baru mulai bangun tidur jam 10 (jam kehidupan di Temanggung dimulai jam 10 pagi... hahaha)

Lanjut..
Dari sana, kami langsung menentukan arah dan tujuan selanjutnya.. dan akhirnya kami meluncur ke arah Parakan.. Sekitar setengah jam perjalanan menuju Parakan..

Kami mendapati sebuah rumah dengan arsitektur yang asik, dan menarik.. Dengan pintu-pintu besar.. Ukiran naga, dan striping merah di pintu masuk.. dan akhirnya kami putuskan untuk "berkunjung" dan masuk ke dalem..
Di sana, kami diterima dengan baik.. Seorang pemilik rumah mempersilahkan kami masuk.. Dan akhirnya gw sama Gandes mulai menceritakan maksud kami dateng ke sana..

Mereka bercerita, bahwa Parakan adalah daerah yang berbeda dengan daerah Pecinan yang lain.. Mereka bercerita bahwa disini, semuanya adalah sama.. Mereka semua adalah orang-orang Indonesia, dan hampir tidak ada lagi jarak ataupun batasan antara orang pribumi yang asli maupun keturunan..
Bahkan pemilik rumah tersebut pun adalah pewaris rumah yang sudah kesekian, dan orang tersebut sudah menikah dengan orang pribumi asli..

"Di sini, sudah tidak ada lagi pengelompokkan mas. Yang penting di sini kami hidup rukun, kami juga menikah dengan orang-orang asli, berkeluarga dan memiliki anak seperti saya ini." tutur pemilik rumah tersebut..

Sementara, abang Mike sang Still Photography, sibuk dengan kameranya untuk mengabadikan beberapa spot di rumah tersebut yang khas..

Ketika kami menanyai mengenai filosofi bangunan pun, pemilik rumah tidak mengetahui banyak, namun dia menunjukkan bahwa di bagian atas rumah tersebut, terdapat ukiran-ukiran khas Jawa..
"Itu diatas, sudah bukan benar-benar asli China lagi, kalo saya lihat itu sudah ada campuran sentuhan Jawanya", terangnya sambil menunjuk sebuah ukiran yang mirip pola batik..

Pemilik rumah pun, akhirnya merujuk kita untuk mengunjungi Kuil Tri Dharma.. Di sana mereka meyakini, kami akan mendapat lumayan banyak informasi..
"Kalo yang masih benar-benar menjunjung tinggi adat dan budaya Chinese, mungkin orang-orang Khong Hu Chu bisa lebih menerangkan.", terang ibu yang sudah ditinggal anaknya ini.. Menurutnya sebagai seorang penganut kepercayaan Kristen, persoalan hidup bukan lagi karena budaya, adat-istiadat, namun lebih ke personal dengan Yang Di Atas..

"Kami di sini, bertetangga baik dengan semua orang, dan di Parakan mungkin memang berbeda dengan daerah-daerah Pecinan lain, seperti Semarang yang sudah terpetak.. Kami disini, berkumpul dan tetap saling menghargai dan menjadi bagian dari orang-orang asli di sini." terangnya, menutup pembicaraan ketika kami memutuskan untuk pamit dan bersiap menuju Klentheng Tri Dharma..

Akhirnya gue sama yang laen menuju Tri Dharma.. Apa yang kami dapet di sana? tetep pantengin terus blog Sang Saka..

Agama..
Ras..
Suku Bangsa..
Etnis..
Kepercayaan..
Menjadi satu di bawah Indonesia..
Di bawah Sang Saka Merah Putih..
Bukti Kebanggaan...

by Pandhu Adjisurya (pandhu.adjisurya@gmail.com)

Sabtu, 05 September 2009

Observasi, Riset dan Trip

Briefing Observasi Temanggung..
@ Maguwoharjo (Basecamp 2, Kontrakan Yudo)
4 September 2009
11 AM

Hari ini kita ngomongin tentang apa yang bakal kita lakuin besok pagi di Temanggung.. Sebenernya ada apa sih di Temanggung itu? Kok sampe kita jauh-jauh kesana? Yang pasti di sana ada rumah Yudo yang bisa kita pake buat bermalam, melepas lelah, mandi dan makan gratis.. hahaha..

Briefing ini tadi yang ikut cuma 5 orang, yaitu gue (Pandhu), Gandes, Merio, Yudo, sama Doank..
Udah lengkap sih sebenernya...
Director, Asstrada, DOP, Editor, yang satu lagi udah khatam buat jadi manager lokasi...
GREAT..

Nah, Yudo mulai bercerita tentang keadaan kampung halamannya tercinta itu..

"Di sana itu, tiap lahan atau daerah itu cuma dimiliki sama satu marga.. Pintu depan mereka semua berbentuk kaya toko-toko, tapi begitu masuk kedalem, di dalemnya itu kaya ada jalan-jalan belakang yang ngehubungin rumah sama rumah.. Kaya ada kampung di balik toko itu" kata Yudo..

"Semacam dinasti lah.." timpal Merio...

Dari situ, bisa ditarik kesimpulan awal, atau bahasa kerennya Hipotesis kalo di Temanggung atau tepatnya di Parakan itu bakal ada tempat-tempat unik, yang gak bakal di temuin di Jogja.. Tapi Yudo belom bisa jamin kita bisa masuk ke dalem atau melihat langsung "kampung" yang dimaksud itu..

"Per marga bisa punya 1 hektar tanah, yang ditengahnya itu isinya gang-gang kecil, yang gak keliatan dari luar.." sahutnya mantab..

Setelah dari Parakan rencananya bakal dilanjutin buat observasi sama riset visual daerah-daerah sekita Temanggung kaya Kebun Teh, Hutan Pinus, sama Kuil Katolik..

Buat yang pengen tau hasil risetnya, bisa pantengin terus kelanjutan pra-produksi SANGSAKA ini...

Skuad yang besok berangkat :
Pandhu Adjisurya (Director)
Gandes P.W (Ass. Director)
Merio Felindra (Ass. Director)
Yudo Nugroho (DOP-Campers)
Michael Eko (Still Photography)

Jadwal SANGSAKA di Temanggung :
06.00 - 07.30 Berangkat menuju Temanggung
07.30 - 08.30 Mandi, Makan, Siap-siap(Basecamp)
08.30 - 09.00 Perjalanan menuju Parakan
09.00 - 12.00 Observasi Parakan
12.00 - 12.30 Perjalanan menuju Kebon Teh
12.30 - 13.30 Riset Visual Kebon teh
13.30 - 14.30 Perjalanan menuju Hutan Pinus
14.30 - 15.30 Riset Visual Hutan Pinus
15.30 - 16.00 Perjalanan menuju Kuil Katolik
16.00 - 17.00 Riset Visual Kuil Katolik
17.00 - 17.30 Perjalanan menuju basecamp
17.30 - 18.30 Istirahat
18.30 - ..... Kembali menuju Jogja apabila memungkinkan..

Salam SANG SAKA..
Kibarkan SANG SAKA di tempat terhormat....

by Pandhu Adjisurya (pandhu.adjisurya@gmail.com)

Selasa, 01 September 2009

Nasionalisme dan Tionghoa


Berhubung bingung ngabuburit mau ngapain, yaudah aku ngeblog aja,, hohoho. Masih segar dalam ingatan, bang pandhu minta pendapat aku soal nasionalisme dan patriotisme, terutama di kalangan tionghoa di mata seorang Adhika Dwi Pramudita, pemuda keturunan Jawa. Cukup fresh, unik, dan rada aneh sih topik ini emang.

Oke, sebelum masuk ke analisa, aku mau ngomong dulu, kenapa aku mau terima permintaan bang pandhu ini. Aku pribadi tinggal di lingkungan etnis tionghoa (kuliah di universitas ciputra yang mayoritas keturunan tionghoa), jadi sedikit-sedikit ngerti lah tentang mereka. Disini aku gak mau rasis coz aku sendiri benci banget rasisme. Aku udah beberapa kali juga jatuh cinta ama cewek tionghoa. Hahaha, uda cukup layak buat nulis nasionalisme di kalangan tionghoa kan?

Biar jawaban elu kagak cukup, aku bakal tetep nulis soal topik ini, gak gitu entar sungkan ama bang pandhu, hahaha. Tercetusnya ide seorang paskibra nasional keturunan cina ini sampai di telingaku tepat di malam ketika aku mempertanyakan nasionalisme teman-temanku di Ciputra. Well, waktu acara talent show nya outbound mahasiswa ciputra di trawas, grupku sepakat buat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kebetulan waktu itu deket-deket 17 agustus.

Well,, aku ama kelompokku sih ngira ini ide brillian banget. Tapi kenyataannya laen banget, dari sekitar 120 orang jurusan information technology ciputra, paling hanya 30an yang ikutan berdiri and nyanyi lagu yang udah diciptain susah-susah ama WR Supratman itu. Tapi sisanya? SMSan, ngobrol sendiri, atau mungkin ada yang maenan semut kali, hahaha.

Sesak banget dada ini kalau kalian tahu. Gak nyangka aja teman-teman ciputra sendiri banyak yang lupa arti dari nasionalisme. Aku ama timku kan gak minta mereka buat beli pistol and nembakin tu malaysia sialan (update bok, masa belanda mulu yang jadi musuh indonesia?). Kita cuma minta biar anak ciputra kompak berdiri and nyanyiin lagu Indonesia Raya. But for most of them, itu gak lebih dari wasting time.

Aku disini gak mendeskreditkan salah satu ras. Dari 30an orang yang sadar itu, mostly juga keturunan Tionghoa. Trus dari sisa 90an orang yang gak peduli itu, banyak juga yang keturunan Jawa. Kesimpulan yang aku dapat sih, nasionalisme itu tidak bisa dilihat dari suku dan ras. Biar Jawa biar Cina juga banyak yang berjiwa nasionalis, tapi juga banyak yang berjiwa cuek and lebih bangga ama negara lain (di kampusku sampai ada klub pencinta Jepang, bagiku freak banget).

Dapet pointnya gak guys?
Nasionalisme gak peduli soal elu Jawa, Cina, Batak, Sunda, Papua, atau ras gak jelas sekalipun. Nasionalisme itu tempatnya di hati masing-masing orang. Nah berhubung hati manusia kagak punya detektor ras, makanya nasionalisme kadang nemplok di ras-ras yang orang gak ngira bakal nasionalis. Intinya, nasionalisme soal individu, bukan ras. Kalau nasionalis yah nasionalis, kalo kagak yah kagak.

Last word, aku dukung banget nih project bang pandhu soal paskibra nasional ini.
Jia You bang pandhu!!

by Adhika Dwi Pramudita

Senin, 31 Agustus 2009

Obrolan dengan Seorang Ibu di jl.Dagen

(30/09) YOGYAKARTA. Sekitar pukul 10.00 WIB, saya bersama Yudo dan Pandhu melakukan penelusuran beberapa spot di wilayah selatan Malioboro, waktu itu siii saya lihat nama salah satu jalannya adalah Jl. Dagen. Dari observasi yang kami lakukan ini, diharapkan ada berbagai informasi yang kami peroleh, misalnya dari segi arsitektur bangunan yang ada di sebuah pecinan, permasalahan sosial bagi kaum Chinese yang tinggal di wilayah tersebut, atau lebih menjurus lagi, yaitu mengenai persepsi mereka terhadap suatu kata: NASIONALISME. Sesuai dengan nilai yang ingin diangkat oleh SANG SAKA.

Setengah jam lebih kami mengitari gang-gang yang ada di lokasi observasi dan hanya berkutik dengan bangunan-bangunan bisu yang tanpa dapat kami tanyai. Bangunan yang ada pun mayoritas telah berubah menjadi hotel, toko kelontong yang beretalase, dan rumah pemukiman yang bergaya modern, meminimalisir identitas kultural dari kaum Chinese.

Kami harus BERTANYA kepada seseorang!! Itu yang ada di benak saya dan Pandhu. Namun, masih ada ragu bagi kami untuk mendekati salah satu warga dan menjadikannya sebagai nara sumber kami. Kami benar-benar ingin mengetahui persepsi kaum Chinese mengenai sikap nasionalisme kepada Negara Indonesia.

Setelah mendelik-delik, tiba-tiba seorang bapak keturunan Chinese pun menegur kami, "mau cari siapa, mas?" Mungkin yang dimaksud adalah Yudo, dengan tampang yang sangat mencurigakannya. Jangan-jangan bapak itu tahu kalo Yudio berasal dari Temanggung. *haiyah!* Dengan berdalih, Yudo menjawab, "nggak, pak... itu jalan buntu apa ada jalan selanjutnya, yaaa??" Sang bapak pun menanggapi basa basi kami.

Melihat respon dari sang bapak yang sangat komunikatif itu, saya beranikan diri untuk mengajak ngobrol tentang beberapa hal yang nantinya dapat mendungkung Sang Saka nantinya. Sang bapak yang sebenarnya sudah sejak lahir tinggal di daerah tersebut pun tiba-tiba merasa kurang berkompeten, beliau justru menyarankan agar kami bertanya kepada sang Ketua RT.

Namun, kami tetap membuka obrolan tersebut: "bagaimana pandangan bapak, sebagai salah satu kaum Chinese atau Tionghoa, mengenai rasa nasionalisme terhadap Bangsa Indonesia" ... belum sempat, sang bapak itu menjadwab, tiba-tiba seorang ibu (50 tahun) yang sedang membeli sabun detergen menanggapi pertanyaan kami...

"... sekarang saya yang balik tanya ke mbak dan mas-nya... Apa yang telah Bangsa Indonesia lakukan terhadap kaum kami??"

Pertanyaan yang dilontarkan cukup tegas dan menggebu-gebu tersebut cukup membuat kami tersentak kaget. Namun, dari sinilah kami menemukan obrolan yang cukup panjang dan historikal dari perempuan tersebut.

Jujur, sangat sulit menjelaskan secara detil atas apa yang telah kami perbincangkan selama kurang lebih 1 jam. Namun, ada beberapa hal yang dapat kami maknai dari pesan yang telah disampaikan oleh perempuan yang tidak mau disebutkan namanya itu. Yang pertama, beliau merasa bahwa Indonesia masih menganggap kaumnya sebagai orang asing. "Istilahnya, kami tuh ingin memeluk Indonesia, tapi yaa... yang dipeluk aja gak mau....", begitu katanya menambahkan. Selain itu, beliau juga berpendapat bahwa seharusnya bangsa Indonesia menghargai negaranya sendiri. Kalau orang Indonesia (tidak peduli apakah pribumi ataupun bukan) sendiri tidak mencintai negaranya sendiri, maka Indonesia semakin hancur. Apalagi sekarang lagi semakin mengglobalnya budaya modern yang mengikis sopan santun yang ada pada jaman sebelum tahun 1965.

Perempuan yang kini telah ditinggal oleh suami dan anak pertamanya ini memang lebih banyak bercerita tentang pengalaman pribadinya dan cenderung bercerita dari sudut pandang yang subyektif. Namun, apa yang disampaikan cukup membuka pandangan kami dan dapat melengkapi hasil barainstorming.

Banyak tokoh-tokoh pejuang dari China yang beliau sebutkan, namun saya tidak berani menuliskan; takut salah tulis. Yang jelas, tokoh-tokoh tersebut dijadikan sebagai panutannya untuk tetap berjuang atas kehidupan yang semakin keras. Perjuangan yang dapat membawa mereka sederajat dengan yang lainnya, tidak terpuruk, dan ditindas.

Untuk persoalan rasisme sendiri, menurut beliau, persoalan itu tetap ada sampai sekarang namun saat ini kembali tidak muncul di permukaan lagi. Mungkin, sudah kalah dengan isu-isu global, teroris, dan politik lainnya. Toh, mau tidak mau... tetap saja masih adanya gap dalam masyarakat. Beliau pun mengharapkan adanya peluang dari pemerintah yang lebih terbuka terhadap kaumnya.

Pada awalnya, perempuan yang kini hidup sendiri dan tinggal berdekatan dengan teman lamanya ini, dengan yakin mengatakan bahwa dia bangga dengan Negara RRC. Apalagi, sang ayah keturunan asli dari Negri Cina. Beliau bangga karena RRC merupakan negara yang sukses. Bukan negara yang terpuruk seperti Indonesia. Namun, di akhir perbincangan, ketika Pandhu menegaskan kembali kepada perempuan tersebut, beliau mengatakan bahwa dia tetap bangga terhadap Indonesia.

"saya tetap bangga dengan Indonesia, karena Indonesia merupakan bangsa yang kuat! Yang penting, jangan menjadi seseorang yang sombong. Karena, kesombongan akan membawa kita kepada kehancuran!" ucapnya dengan mantap.


Dan, ketika PAndhu menjelaskan lebih detail mengenai inti cerita dari Sang Saka, mengenai perjuang seorang gadis remaja keturunan Chinese yang berjuang ingin menjadi anggota paskibra demi mengibarkan Sang Saka, meskipun banyak halangan yang dia hadapi dengan keluarganya maupun lingkungan sosialnya... kemudian nara sumber pun kami merespon dengan senyuman, sambil berkata "ouw, jelas! Anak-anak kami jelas akan lebih siap untuk berjuang demi bangsa ini!"


** kami pun masih berusaha untuk terus mencari pandangan-pandangan dari individu lainnya



by Gandes P.W

Minggu, 30 Agustus 2009

Brainstorm #2

@ Halaman Ruang Kemahasiswaan FISIP UAJY
8.30 pm


Malem itu lumayan dingin kalo buat ngobrolin tentang film.. Apalagi brainstorm produksi, tapi dari obrolan awal bareng Merio, justru ada passion baru buat ngegarap Sang Saka ini.. Walo awalnya dia ketemu gue juga buat balikin HD eksternal gue aja.. Dia juga bilang lagi nyiapin satu project, hide project katanya (nyamain punya Ismail Basbeth dah)..

“Sebenernya apa sih yang mau diceritain di film ini?”, awal dari pertanyaan Merio.. Yah, untuk kesekian kalinya, gue ceritain ide liar dan mungkin ide gila gue..

Di tempat yang rame itu, gara-gara ada persiapan makrab Mustika Maya sama rapat Dewan Maba buat Waung Nite, gue coba ceritain semua yang ada di pemikiran gue.. “Kamu itu selalu dapetin openingnya dulu ato endingnya aja.. ya mungkin kamu nglupain konflik yang mau kamu bangun..” setelah dia denger cerita gue… Kebetulan banget, dia juga pernah hampir 5 tahun hidup di Lasem, daerah di pantura yang menurut dia hampir 70% lebih penduduknya adalah etnis chinese yang masih benar-benar tertutup.. Namun untuk lanskap dia pikir, tempat itu masih belum cocok, tapi kayanya masih perlu diliat langsung…

Sang Saka..
Gue ceritain dalam film ini, akan ada seorang perempuan keturunan China yang punya impian bisa jadi anggota PASKIBRAKA.. Impian yang mungkin cuma dimiliki oleh sedikit generasi muda di jaman globalisasi dan juga modernisasi.. Mungkin udah tinggal segelintir orang yang masih punya rasa patriotisme sama nasionalisme.. Pasti bakal banyak yang bilang kalo, nasionalisme itu gak melulu dan gak harus ditunjukkin dengan jadi Paskibra, apal Pancasila, ato mungkin tau arti filosofis dari warna merah-putih di bendera Indonesia.. Tapi gue sebenernya pengen ngasih sindiran aja sih, ke para orang-orang yang “ngakunya” bener-bener Indonesia.. Di status FB, pas 17 Agustusan aja, masih banyak yang ngeluh waktu upacara bendera.. Yah.. Padahal ngliat bendera Indonesia di satu ritus seperti upacara juga mungkin cuma waktu 17 Agustus aja.. Dimana sih sebenernya jiwa nasionalis kita? Gue pengen mengemas sebuah cerita tentang nasionalisme, tapi gue ambil dari pandangan dan ngangkat cerita di sebuah kampung Pecinan..

Gue bayangin ada sebuah kampung dengan gang-gang kecil yang padat dengan aktivitas dagang atau mungkin penuh ornamen dan warna-warna merah khas etnis chinese. Bahasa yang terdengar di satu daerah di Indonesia itupun masih menggunakan bahasa lokal China.. Dan ditengah nafas kehidupan di Chinatown itu, ada seorang perempuan keturunan yang memiliki perasaan yang berbeda.. Dia mungkin tak lebih ekstrovert dibanding orang-orang lain di sana.. Namun dia tidak apatis terhadap negaranya ini, Indonesia..

Gue idealis.. Jelas gue juga subyektif karena riset baru mulai gue sama tim lakuin hari Minggu ini.. Gue punya sebuah pikiran bahwa mereka adalah sebagian besar orang yang apatis, dan mengikuti arus dan cenderung “bermain aman”.. Kaum chinese adalah kaum yang sebenernya nghidupan perekonomian Indonesia.. Merekalah yang bisa bikin geliat ekonomi Indonesia ini seperti saat ini, mereka ulet, spekulan yang baik, teliti, dan mereka benar-benar introvert serta mungkin egois.. Yang terpenting adalah mereka dapat hidup layak (pemikiran gue sebelum riset).. Itulah yang pengen gue gali dan gue tunjukkin, bahwa ditengah orang-orang seperti itu, masih ada pula orang yang peduli dengan Indonesia..

Jika orang keturunan aja peduli sama negara ini, dan bangga atas negara ini, mungkin sebagai pribumi asli kita patut malu terhadap mereka..

Yap.. Kemudian gue ceritain gimana ending dari film gue ini nantinya.. “Mmm.. Kamu mikir nominal berapa? 50 ato 100?” kata Merio.. Angka yang wah menurut gue.. Karena paling gedepun gue pernah manage duit 4 juta buat bikin film panjang, Juni kemaren.. “Mungkin kamu anggep itu uang yang gede, tapi kalo buat film sekompleks itu, mungkin itu bukan nominal angka yang besar. Aku bener-bener mikirin dan anggep budgeting adalah sisi yang paling perlu diperhatiin.”

Gila.. Gue gak pernah bayangin nominal segitu.. Dan gue juga kaget dia nembak angka segitu.. “Kalo emang kamu butuh kru, mungkin aku bisa bantuin cariin.. Kalo emang mau eksekusi, ayo eksekusi, aku bantu”.. Sebuah statement yang menurut gue bagus.. Karena gue butuh dan perlu orang-orang yang mau bener-bener bekerjasama sama gue.. Gue butuh dukungan, karena waktu pengerjaan project inipun lumayan lama.. Sekaligus gue pengen bener-bener ngasih semua yang gue bisa lakuin buat film ini.. Gue ceritain bahwa temen-temen komunitas gue, ketika gue pertama kali pitching ide ke mereka, yang gue dapet pun bukan wajah-wajah yang punya passion dan gue yakin mereka pikir gue gila..

UTOPIS!

Banyak yang ngira gue mungkin sakit, setelah gue ceritain ide gue itu.. Tapi orang ini, justru malah gue liat tertarik dan siap buat bantuin selesein dan eksekusi cerita ini.. Menurut dia banyak yang harus diriset.. Mulai dari kehidupan, masalah sosial di dalam komunitas itu, bahasa china, dan yang paling penting harus udah ditemuin konflik apa yang mau dibangun sehingga bener-bener masuk dalam kategori film berbau nasionalis…

“Ya kalian memang beda cara dalam melihat dan membuat film.. Dan menurutku, kamu harus berani buat bilang.. Aku punya cerita kayak gini, aku minta bantuan buat jadi ini.. Kalo dia nolak ato sedikit kurang setuju sama cerita ini, toh kamu masih bisa cari yang laen.. Dan masih banyak orang yang mau bantuin.. Jangan takut buat bilang, Oke.. Gak papa..”

No comment buat statement dari Merio itu.. Tapi memang itu, salah satu masalah yang lagi gue hadepin sekarang… Masih cukup susah buat ngelakuinnya..

Obrolan bertambah seru ketika ada seorang lagi yang gue ceritain ideku ini.. dan gue anggep, dia punya wawasan yang cukup ato bahkan jauh lebih banyak dari gue.. Pengalaman sama teknis dia pun, gue salut lah.. Ditambah lagi, dia juga lagi tertarik buat mencoba sinematografi…

by Pandhu Adjisurya (pandhu.adjisurya@gmail.com)

Selasa, 25 Agustus 2009

Brainstorm #1

Selasa, 25 Agustus 2009
@ Jinnemo, Jogjakarta

Ada sebuah pertanyaan yang muncul, sewaktu brainstorm pertama ini dilakuin.. Yaitu, apakah isu tentang etnis dan ras masih cocok ato masih fresh buat diangkat buat masa-masa sekarang.. Isu seperti ini, memang sedikit banyak punya resistensi dan gak nutup kemungkinan juga buat terjadinya gesekan.. Salah sedikit sewaktu mempersepsi suatu masalah, justru bisa jadi imbas atau efek yang mungkin gak kepikiran sekarang..

Ide awalnya dari Sang Saka ini, adalah untuk mengangkat sebuah kehidupan di kawasan Pecinan yang didominasi etnis chinese. Pandangan awalnya, kehidupan di kawasan ini, dipenuhi dengan sikap apatis dan cenderung kurang memperhatikan aspek-aspek kehidupan lain.. Karena mayoritas dari penduduk di sana lebih berpikir bagaimana untuk dapat bertahan hidup.. Sehingga persoalan seperti nasionalisme mungkin akan menjadi persoalan yang kurang penting atau bahkan tidak penting bagai mereka..

Sang Saka...
Digagas oleh Pandhu Adjisurya sebagai sebuah film yang menceritakan tentang kehidupan seorang perempuan muda keturunan yang mempunyai cita-cita untuk dapat menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera.. Walaupun dirinya adalah seorang keturunan yang bukan merupakan seorang pribumi atau Indonesia asli, dirinya tetap bangga dan ingin mengibarkan bendera Indonesia di tempat yang tertinggi dan terhormat di Indonesia...

Itulah gambaran kasar dari film ini nantinya, namun ketika brainstorm tadi bermunculan beberapa ide baru.. Yudo Nugroho memberikan ide bahwa mungkin sudah terlalu pasaran mengangkat sebuah persoalan dari etnis china...

Mungkinkah Sang Saka akan mengangkat cerita kehidupan yang lain?
Nantikan...

SANG SAKA
Bukan sekedar bendera..
Bukan sekedar lambang..
Bukan sekedar simbol..
Namun Bukti dan Kebanggaan

Penggagas :
Pandhu Adjisurya, Gandes P.W, Yohanes Januadi, Yudo Nugroho...

Jumat, 21 Agustus 2009

Quotes #1

Bendera..
Bagi beberapa orang mungkin sebuah benda yang sakral, namun tetap saja ada pula orang yang menganggap bendera sebagai sebuah kain yang sebatas sebagai simbol negara...