Jumat pagi, 16 Oktober 2009, sekitar pukul 6.30, beberapa kru SangSaka telah bersiap diri di kampus. Kami, yang terdiri dari Dept. Story (Pandhu, Gandes, Condro Bayu, Purba, Miko), Dept.Art (Edo, Ryan), Dept.Camera (Yudo), Dept.Editing (Doank), Talent Manager (Nita, Della), Loc.Manager (Ditha), Dept.Documentation (Gio), serta Pimpro (Avy) hendak berangkat ke Semarang untuk melakukan riset sekaligus mengeksekusi teaser yang telah kami rencanakan. Sekitar pukul 8.00 kami berangkat melewati jalur Magelang - Ambarawa. Setelah 3,5 jam perjalanan, bersaing dengan truk dan bis besar, menghirup segala macam polusi jalanan, kami pun berhasil tiba di Semarang, tepatnya di rumah Yohan Bayu yang akan menjadi base camp kami selama 3 hari. Ryan, salah satu kru) musti bersyukur karena ban sepeda motornya baru sobek setiba di basecamp. Coba bannya kempes di jalan Ambarawa, ketika dia tertinggal cukup jauh di tanjakan di belakang truk dengan Della... hehehe...
HARI PERTAMA, 16 Oktober 2009
Sekitar jam 12.30, dua mbak mentel (Talent Manager) sudah meluncur dari basecamp hendak me-lobby dan mencari para talent untuk produksi teaser pada hari kedua besok. Sorenya, kru-kru lain (termasuk Yohan Bayu) memulai survey di kawasan Kota Lama, Gereja Blenduk. Sesuai namanya, kawasan ini memang dipenuhi bangunan-bangunan yang cukup kuno. Kebanyakan bangunan memang didirikan ketika pemerintah kolonial masih berkuasa. Menjelang maghrib kami mampir sebentar ke danau polder Tawang. Sempat tertipu juga melihat aliran air yang tenang dan hijau, lanskap yang bagus di tengah kota. Tetapi begitu mendekat, bau-bauan yang tak sedap meruap-ruap di hidung. Air di bagian tepinya seperti saus tomat warna hijau yang agak kental. (bayangkan nikmatnya berenang di danau ini.. haha...). Setelah matahari tenggelam, kami kembali ke basecamp untuk beristirahat dan mandi.
Sekitar jam 10 malam, ditambah Mike yang baru datang dari Jogja, kami melanjutkan survey ke Semawis, kompleks Pecinan yang cukup terkenal di Semarang. Di sini, yang kami mendapatkan kesan dan suasana yang benar-benar khas Cina. Stand-stand makanan minuman berjajar di sepanjang jalan. Beberapa stand menjual perhiasan. Ada juga stand karaoke yang melantunkan lagu-lagu Mandarin. Rombongan kemudian dipecah. Ada yang ke gang Lombok (Kapal Chengho dan Klenteng Tay Kak Sie), ada yang menelusuri gang lain, dan ada yang langsung makan karena sudah tidak kuat menahan lapar.
Setelah dirasa cukup, kami berlanjut ke Sam Poo Kong. Klenteng ini merupakan kompleks terluas yang kami temui. Kuilnya tidak hanya satu, tetapi tiga. Itupun masih ditambah beberapa bangunan lain. Di klenteng ini kami juga menemui lilin-lilin merah besar yang lebih banyak dibandingkan di Klenteng Tay Kak Sie. Jangan tanyakan harganya. Cukup bayangkan Anda membakar beberapa sepeda motor atau mobil (ada lilin yang besarnya seukuran tugu).
Dirasa cukup, kami kembali ke basecamp. Dept.Story melanjutkan brainstorming treatment di Cushion Cafe. Yang lain kembali ke kamp penampungan, kecuali Nita dan Della yang menginap di rumah teman yang lain.
HARI KEDUA, 17 Oktober 2009
Setelah treatment dimantapkan oleh Dept.Story melalui diskusi dini hari, eksekusi dilakukan. Sekitar pukul 10.00 WIB, 12 orang kru ditambah Rio (Art Dir.) telah menyerbu Gg.Lombok untuk mengambil gambar di kapal CengHo dan Klenteng Besar. Di sana, para talent yang telah bersedia dan sukarela membantu telah bersiap. Briefing pun dilakukan, dan segera: "Action!"
Jam 10 di semarang sudah seperti jam 12 di jogja, sangat panas dan menyengat; membuat energi para crew cepat drop saat awal - awal produksi (selain menghitamkan kulit tentunya). Ditambah lagi beberapa talent tidak seperti yang diharapkan. Ada juga talent yang sudah pergi lebih dulu sehingga Nita dan Della harus mencari talent dadakan (on the spot).
Siang setelah pengambilan gambar di Klenteng Tay Kak Sie, Condro Bayu harus pamitan lebih dulu ke Jogja karena kesibukannya di tempat lain.
Beberapa kejadian lain yang membuat tim story harus membuat rencana dan treatment baru untuk menyesuaikan dengan waktu dan kondisi lapangan yang ada. Salah satunya adalah dengan melakukan pergantian talent. Bayu, sang storyboard-er kami terpaksa menjadi talent dadakan.
Sempat muncul rasa tidak puas ketika kami selesai eksekusi di tempat itu. Ada sejenis kekurangan yang sulit didefinisikan ketika konsep telah matang dan tergambar sempurna dalam pikiran tetapi yang terekam dalam kamera tidak memberikan suatu kelegaan. "Seandainya bisa, gambaran dalam pikiranku langsung aku capture!" kata Pandhu di sela-sela waktu istirahat.
But life must go on. Sore harinya, setelah Mike, Bayu, dan Yudo selesai dengan still photography, kami segera berlanjut ke salah satu ruas gang di Jalan Semawis untuk ekseskusi scene lain. Tak perlu berlama-lama karena mengejar senja, kami berlanjut ke kawasan Gereja Blenduk, Kota Lama. Di sini, kami melanjutkan pengambilan gambar dengan talent. Setelah dirasa cukup, kami beristirahat sebentar di sana.
Menjelang maghrib, kami kembali ke Jalan Semawis untuk merekam suasana Pecinan malam hari. Namun karena kami datang terlalu awal, belum banyak orang yang datang. Kami pun menunggu di salah satu emper toko dan beristirahat di sana. Tiba-tiba hujan mengguyur daerah Semawis dan ini jelas menunda keramaian itu muncul.
Hujan tidak terlalu lama dan segera reda. Mike dan Yudo segera menyusuri jalanan ini untuk mengambil gambar. Sialnya, gambar yang didapat juga tak terlalu sesuai harapan karena orang-orang baru berdatangan ketika kami sudah hendak pulang.
Pukul 19.30 WIB, kami kembali ke basecamp dan mandi. Rencana makan di luar dibatalkan karena Tuan rumah telah sangat berbaik hati menyediakan makan malam. Sebelum beristirahat, Avy Karyadi, Sang PimPro mengajak kami melakukan evaluasi produksi hari itu dan briefing untuk eksekusi terakhir besok.
HARI KETIGA, 18 Oktober 2009
Pagi-pagi jam 5 kami sudah dibangunkan untuk segera mandi, demi mengejar matahari pagi di Sam Poo Kong. Nita dan Della mendahului ke lokasi untuk mempersiapkan talent dan tempat. Setelah sarapan dan beres-beres, kami langsung pamitan pada orang tua Yohan Bayu karena akan langsung pulang ke Jogja begitu selesai eksekusi di Sam Poo Kong.
Sekitar jam 7.30 kami tiba di Sam Poo Kong, briefing, menyiapkan tempat, mengarahkan talent, dan langsung mengambil gambar. Karena adegannya singkat, kami tidak berlama-lama. Selanjutnya, sambil menunggu jam 10 untuk mendapatkan perijinan masuk kuil, para kru berfoto-foto dulu di sana (buat dokumentasi, hehehe...)
Jam 10. Mike dan Yudo mendapat kehormatan untuk mengenakan kostum kebesaran kaisar dan hakim roda mas demi dapat masuk kuil (bayarnya mahal...). Berempat dengan Yohan Bayu dan Gio, mereka masuk bagian dalam kuil dengan seorang pemandu dan seorang fotografer. Sekitar 1 jam lebih mereka berkeliling di dalam dan mengambil gambar.
Sementara itu, di dekat perempatan jalan raya di luar klentheng, sebuah mobil terbakar. Pandhu, Doank, dan Purba segera berlari ke lokasi untuk mengabadikan peristiwa itu. Menurut saksi mata, mobil kijang itu sempat mengeluarkan asap dari AC sebelum ditinggal oleh pemiliknya dan kemudian terbakar. Tak berapa lama, pemadam kebakaran datang dan memadamkan api itu (ini intermezzo...).
Siangnya, setelah mampir di warung tahu gimbal dan es campur, kami kembali ke Jogja. Melihat kondisi para kru yang cukup memprihatinkan, mata berat, dan mulai berhalusinasi (contoh: Miko yang mengira detik di lampu merah sudah sampai angka 1, padahal masih 19 detik!), kami mampir ke Gua Maria Kerep Ambarawa untuk berdoa sekalian istirahat. Jam 16.15 kami melanjutkan perjalanan ke Jogja dan kemudian kembali ke rumah masing-masing. Besok kami akan melakukan eksekusi adegan lain di Jogja.
Terima kasih atas dedikasi seluruh kru, dan juga semua pihak, termasuk juga talent yang telah membantu dengan sukarela.
Tetap nantikan teaser dari kami...
Tanpa kalian, tak ada Indonesia.