(30/09) YOGYAKARTA. Sekitar pukul 10.00 WIB, saya bersama Yudo dan Pandhu melakukan penelusuran beberapa spot di wilayah selatan Malioboro, waktu itu siii saya lihat nama salah satu jalannya adalah Jl. Dagen. Dari observasi yang kami lakukan ini, diharapkan ada berbagai informasi yang kami peroleh, misalnya dari segi arsitektur bangunan yang ada di sebuah pecinan, permasalahan sosial bagi kaum Chinese yang tinggal di wilayah tersebut, atau lebih menjurus lagi, yaitu mengenai persepsi mereka terhadap suatu kata: NASIONALISME. Sesuai dengan nilai yang ingin diangkat oleh SANG SAKA.
Setengah jam lebih kami mengitari gang-gang yang ada di lokasi observasi dan hanya berkutik dengan bangunan-bangunan bisu yang tanpa dapat kami tanyai. Bangunan yang ada pun mayoritas telah berubah menjadi hotel, toko kelontong yang beretalase, dan rumah pemukiman yang bergaya modern, meminimalisir identitas kultural dari kaum Chinese.
Kami harus BERTANYA kepada seseorang!! Itu yang ada di benak saya dan Pandhu. Namun, masih ada ragu bagi kami untuk mendekati salah satu warga dan menjadikannya sebagai nara sumber kami. Kami benar-benar ingin mengetahui persepsi kaum Chinese mengenai sikap nasionalisme kepada Negara Indonesia.
Setelah mendelik-delik, tiba-tiba seorang bapak keturunan Chinese pun menegur kami, "mau cari siapa, mas?" Mungkin yang dimaksud adalah Yudo, dengan tampang yang sangat mencurigakannya. Jangan-jangan bapak itu tahu kalo Yudio berasal dari Temanggung. *haiyah!* Dengan berdalih, Yudo menjawab, "nggak, pak... itu jalan buntu apa ada jalan selanjutnya, yaaa??" Sang bapak pun menanggapi basa basi kami.
Melihat respon dari sang bapak yang sangat komunikatif itu, saya beranikan diri untuk mengajak ngobrol tentang beberapa hal yang nantinya dapat mendungkung Sang Saka nantinya. Sang bapak yang sebenarnya sudah sejak lahir tinggal di daerah tersebut pun tiba-tiba merasa kurang berkompeten, beliau justru menyarankan agar kami bertanya kepada sang Ketua RT.
Namun, kami tetap membuka obrolan tersebut: "bagaimana pandangan bapak, sebagai salah satu kaum Chinese atau Tionghoa, mengenai rasa nasionalisme terhadap Bangsa Indonesia" ... belum sempat, sang bapak itu menjadwab, tiba-tiba seorang ibu (50 tahun) yang sedang membeli sabun detergen menanggapi pertanyaan kami...
"... sekarang saya yang balik tanya ke mbak dan mas-nya... Apa yang telah Bangsa Indonesia lakukan terhadap kaum kami??"
Pertanyaan yang dilontarkan cukup tegas dan menggebu-gebu tersebut cukup membuat kami tersentak kaget. Namun, dari sinilah kami menemukan obrolan yang cukup panjang dan historikal dari perempuan tersebut.
Jujur, sangat sulit menjelaskan secara detil atas apa yang telah kami perbincangkan selama kurang lebih 1 jam. Namun, ada beberapa hal yang dapat kami maknai dari pesan yang telah disampaikan oleh perempuan yang tidak mau disebutkan namanya itu. Yang pertama, beliau merasa bahwa Indonesia masih menganggap kaumnya sebagai orang asing. "Istilahnya, kami tuh ingin memeluk Indonesia, tapi yaa... yang dipeluk aja gak mau....", begitu katanya menambahkan. Selain itu, beliau juga berpendapat bahwa seharusnya bangsa Indonesia menghargai negaranya sendiri. Kalau orang Indonesia (tidak peduli apakah pribumi ataupun bukan) sendiri tidak mencintai negaranya sendiri, maka Indonesia semakin hancur. Apalagi sekarang lagi semakin mengglobalnya budaya modern yang mengikis sopan santun yang ada pada jaman sebelum tahun 1965.
Perempuan yang kini telah ditinggal oleh suami dan anak pertamanya ini memang lebih banyak bercerita tentang pengalaman pribadinya dan cenderung bercerita dari sudut pandang yang subyektif. Namun, apa yang disampaikan cukup membuka pandangan kami dan dapat melengkapi hasil barainstorming.
Banyak tokoh-tokoh pejuang dari China yang beliau sebutkan, namun saya tidak berani menuliskan; takut salah tulis. Yang jelas, tokoh-tokoh tersebut dijadikan sebagai panutannya untuk tetap berjuang atas kehidupan yang semakin keras. Perjuangan yang dapat membawa mereka sederajat dengan yang lainnya, tidak terpuruk, dan ditindas.
Untuk persoalan rasisme sendiri, menurut beliau, persoalan itu tetap ada sampai sekarang namun saat ini kembali tidak muncul di permukaan lagi. Mungkin, sudah kalah dengan isu-isu global, teroris, dan politik lainnya. Toh, mau tidak mau... tetap saja masih adanya gap dalam masyarakat. Beliau pun mengharapkan adanya peluang dari pemerintah yang lebih terbuka terhadap kaumnya.
Pada awalnya, perempuan yang kini hidup sendiri dan tinggal berdekatan dengan teman lamanya ini, dengan yakin mengatakan bahwa dia bangga dengan Negara RRC. Apalagi, sang ayah keturunan asli dari Negri Cina. Beliau bangga karena RRC merupakan negara yang sukses. Bukan negara yang terpuruk seperti Indonesia. Namun, di akhir perbincangan, ketika Pandhu menegaskan kembali kepada perempuan tersebut, beliau mengatakan bahwa dia tetap bangga terhadap Indonesia.
"saya tetap bangga dengan Indonesia, karena Indonesia merupakan bangsa yang kuat! Yang penting, jangan menjadi seseorang yang sombong. Karena, kesombongan akan membawa kita kepada kehancuran!" ucapnya dengan mantap.
Dan, ketika PAndhu menjelaskan lebih detail mengenai inti cerita dari Sang Saka, mengenai perjuang seorang gadis remaja keturunan Chinese yang berjuang ingin menjadi anggota paskibra demi mengibarkan Sang Saka, meskipun banyak halangan yang dia hadapi dengan keluarganya maupun lingkungan sosialnya... kemudian nara sumber pun kami merespon dengan senyuman, sambil berkata "ouw, jelas! Anak-anak kami jelas akan lebih siap untuk berjuang demi bangsa ini!"
** kami pun masih berusaha untuk terus mencari pandangan-pandangan dari individu lainnya
by Gandes P.W
