Senin, 31 Agustus 2009

Obrolan dengan Seorang Ibu di jl.Dagen

(30/09) YOGYAKARTA. Sekitar pukul 10.00 WIB, saya bersama Yudo dan Pandhu melakukan penelusuran beberapa spot di wilayah selatan Malioboro, waktu itu siii saya lihat nama salah satu jalannya adalah Jl. Dagen. Dari observasi yang kami lakukan ini, diharapkan ada berbagai informasi yang kami peroleh, misalnya dari segi arsitektur bangunan yang ada di sebuah pecinan, permasalahan sosial bagi kaum Chinese yang tinggal di wilayah tersebut, atau lebih menjurus lagi, yaitu mengenai persepsi mereka terhadap suatu kata: NASIONALISME. Sesuai dengan nilai yang ingin diangkat oleh SANG SAKA.

Setengah jam lebih kami mengitari gang-gang yang ada di lokasi observasi dan hanya berkutik dengan bangunan-bangunan bisu yang tanpa dapat kami tanyai. Bangunan yang ada pun mayoritas telah berubah menjadi hotel, toko kelontong yang beretalase, dan rumah pemukiman yang bergaya modern, meminimalisir identitas kultural dari kaum Chinese.

Kami harus BERTANYA kepada seseorang!! Itu yang ada di benak saya dan Pandhu. Namun, masih ada ragu bagi kami untuk mendekati salah satu warga dan menjadikannya sebagai nara sumber kami. Kami benar-benar ingin mengetahui persepsi kaum Chinese mengenai sikap nasionalisme kepada Negara Indonesia.

Setelah mendelik-delik, tiba-tiba seorang bapak keturunan Chinese pun menegur kami, "mau cari siapa, mas?" Mungkin yang dimaksud adalah Yudo, dengan tampang yang sangat mencurigakannya. Jangan-jangan bapak itu tahu kalo Yudio berasal dari Temanggung. *haiyah!* Dengan berdalih, Yudo menjawab, "nggak, pak... itu jalan buntu apa ada jalan selanjutnya, yaaa??" Sang bapak pun menanggapi basa basi kami.

Melihat respon dari sang bapak yang sangat komunikatif itu, saya beranikan diri untuk mengajak ngobrol tentang beberapa hal yang nantinya dapat mendungkung Sang Saka nantinya. Sang bapak yang sebenarnya sudah sejak lahir tinggal di daerah tersebut pun tiba-tiba merasa kurang berkompeten, beliau justru menyarankan agar kami bertanya kepada sang Ketua RT.

Namun, kami tetap membuka obrolan tersebut: "bagaimana pandangan bapak, sebagai salah satu kaum Chinese atau Tionghoa, mengenai rasa nasionalisme terhadap Bangsa Indonesia" ... belum sempat, sang bapak itu menjadwab, tiba-tiba seorang ibu (50 tahun) yang sedang membeli sabun detergen menanggapi pertanyaan kami...

"... sekarang saya yang balik tanya ke mbak dan mas-nya... Apa yang telah Bangsa Indonesia lakukan terhadap kaum kami??"

Pertanyaan yang dilontarkan cukup tegas dan menggebu-gebu tersebut cukup membuat kami tersentak kaget. Namun, dari sinilah kami menemukan obrolan yang cukup panjang dan historikal dari perempuan tersebut.

Jujur, sangat sulit menjelaskan secara detil atas apa yang telah kami perbincangkan selama kurang lebih 1 jam. Namun, ada beberapa hal yang dapat kami maknai dari pesan yang telah disampaikan oleh perempuan yang tidak mau disebutkan namanya itu. Yang pertama, beliau merasa bahwa Indonesia masih menganggap kaumnya sebagai orang asing. "Istilahnya, kami tuh ingin memeluk Indonesia, tapi yaa... yang dipeluk aja gak mau....", begitu katanya menambahkan. Selain itu, beliau juga berpendapat bahwa seharusnya bangsa Indonesia menghargai negaranya sendiri. Kalau orang Indonesia (tidak peduli apakah pribumi ataupun bukan) sendiri tidak mencintai negaranya sendiri, maka Indonesia semakin hancur. Apalagi sekarang lagi semakin mengglobalnya budaya modern yang mengikis sopan santun yang ada pada jaman sebelum tahun 1965.

Perempuan yang kini telah ditinggal oleh suami dan anak pertamanya ini memang lebih banyak bercerita tentang pengalaman pribadinya dan cenderung bercerita dari sudut pandang yang subyektif. Namun, apa yang disampaikan cukup membuka pandangan kami dan dapat melengkapi hasil barainstorming.

Banyak tokoh-tokoh pejuang dari China yang beliau sebutkan, namun saya tidak berani menuliskan; takut salah tulis. Yang jelas, tokoh-tokoh tersebut dijadikan sebagai panutannya untuk tetap berjuang atas kehidupan yang semakin keras. Perjuangan yang dapat membawa mereka sederajat dengan yang lainnya, tidak terpuruk, dan ditindas.

Untuk persoalan rasisme sendiri, menurut beliau, persoalan itu tetap ada sampai sekarang namun saat ini kembali tidak muncul di permukaan lagi. Mungkin, sudah kalah dengan isu-isu global, teroris, dan politik lainnya. Toh, mau tidak mau... tetap saja masih adanya gap dalam masyarakat. Beliau pun mengharapkan adanya peluang dari pemerintah yang lebih terbuka terhadap kaumnya.

Pada awalnya, perempuan yang kini hidup sendiri dan tinggal berdekatan dengan teman lamanya ini, dengan yakin mengatakan bahwa dia bangga dengan Negara RRC. Apalagi, sang ayah keturunan asli dari Negri Cina. Beliau bangga karena RRC merupakan negara yang sukses. Bukan negara yang terpuruk seperti Indonesia. Namun, di akhir perbincangan, ketika Pandhu menegaskan kembali kepada perempuan tersebut, beliau mengatakan bahwa dia tetap bangga terhadap Indonesia.

"saya tetap bangga dengan Indonesia, karena Indonesia merupakan bangsa yang kuat! Yang penting, jangan menjadi seseorang yang sombong. Karena, kesombongan akan membawa kita kepada kehancuran!" ucapnya dengan mantap.


Dan, ketika PAndhu menjelaskan lebih detail mengenai inti cerita dari Sang Saka, mengenai perjuang seorang gadis remaja keturunan Chinese yang berjuang ingin menjadi anggota paskibra demi mengibarkan Sang Saka, meskipun banyak halangan yang dia hadapi dengan keluarganya maupun lingkungan sosialnya... kemudian nara sumber pun kami merespon dengan senyuman, sambil berkata "ouw, jelas! Anak-anak kami jelas akan lebih siap untuk berjuang demi bangsa ini!"


** kami pun masih berusaha untuk terus mencari pandangan-pandangan dari individu lainnya



by Gandes P.W

Minggu, 30 Agustus 2009

Brainstorm #2

@ Halaman Ruang Kemahasiswaan FISIP UAJY
8.30 pm


Malem itu lumayan dingin kalo buat ngobrolin tentang film.. Apalagi brainstorm produksi, tapi dari obrolan awal bareng Merio, justru ada passion baru buat ngegarap Sang Saka ini.. Walo awalnya dia ketemu gue juga buat balikin HD eksternal gue aja.. Dia juga bilang lagi nyiapin satu project, hide project katanya (nyamain punya Ismail Basbeth dah)..

“Sebenernya apa sih yang mau diceritain di film ini?”, awal dari pertanyaan Merio.. Yah, untuk kesekian kalinya, gue ceritain ide liar dan mungkin ide gila gue..

Di tempat yang rame itu, gara-gara ada persiapan makrab Mustika Maya sama rapat Dewan Maba buat Waung Nite, gue coba ceritain semua yang ada di pemikiran gue.. “Kamu itu selalu dapetin openingnya dulu ato endingnya aja.. ya mungkin kamu nglupain konflik yang mau kamu bangun..” setelah dia denger cerita gue… Kebetulan banget, dia juga pernah hampir 5 tahun hidup di Lasem, daerah di pantura yang menurut dia hampir 70% lebih penduduknya adalah etnis chinese yang masih benar-benar tertutup.. Namun untuk lanskap dia pikir, tempat itu masih belum cocok, tapi kayanya masih perlu diliat langsung…

Sang Saka..
Gue ceritain dalam film ini, akan ada seorang perempuan keturunan China yang punya impian bisa jadi anggota PASKIBRAKA.. Impian yang mungkin cuma dimiliki oleh sedikit generasi muda di jaman globalisasi dan juga modernisasi.. Mungkin udah tinggal segelintir orang yang masih punya rasa patriotisme sama nasionalisme.. Pasti bakal banyak yang bilang kalo, nasionalisme itu gak melulu dan gak harus ditunjukkin dengan jadi Paskibra, apal Pancasila, ato mungkin tau arti filosofis dari warna merah-putih di bendera Indonesia.. Tapi gue sebenernya pengen ngasih sindiran aja sih, ke para orang-orang yang “ngakunya” bener-bener Indonesia.. Di status FB, pas 17 Agustusan aja, masih banyak yang ngeluh waktu upacara bendera.. Yah.. Padahal ngliat bendera Indonesia di satu ritus seperti upacara juga mungkin cuma waktu 17 Agustus aja.. Dimana sih sebenernya jiwa nasionalis kita? Gue pengen mengemas sebuah cerita tentang nasionalisme, tapi gue ambil dari pandangan dan ngangkat cerita di sebuah kampung Pecinan..

Gue bayangin ada sebuah kampung dengan gang-gang kecil yang padat dengan aktivitas dagang atau mungkin penuh ornamen dan warna-warna merah khas etnis chinese. Bahasa yang terdengar di satu daerah di Indonesia itupun masih menggunakan bahasa lokal China.. Dan ditengah nafas kehidupan di Chinatown itu, ada seorang perempuan keturunan yang memiliki perasaan yang berbeda.. Dia mungkin tak lebih ekstrovert dibanding orang-orang lain di sana.. Namun dia tidak apatis terhadap negaranya ini, Indonesia..

Gue idealis.. Jelas gue juga subyektif karena riset baru mulai gue sama tim lakuin hari Minggu ini.. Gue punya sebuah pikiran bahwa mereka adalah sebagian besar orang yang apatis, dan mengikuti arus dan cenderung “bermain aman”.. Kaum chinese adalah kaum yang sebenernya nghidupan perekonomian Indonesia.. Merekalah yang bisa bikin geliat ekonomi Indonesia ini seperti saat ini, mereka ulet, spekulan yang baik, teliti, dan mereka benar-benar introvert serta mungkin egois.. Yang terpenting adalah mereka dapat hidup layak (pemikiran gue sebelum riset).. Itulah yang pengen gue gali dan gue tunjukkin, bahwa ditengah orang-orang seperti itu, masih ada pula orang yang peduli dengan Indonesia..

Jika orang keturunan aja peduli sama negara ini, dan bangga atas negara ini, mungkin sebagai pribumi asli kita patut malu terhadap mereka..

Yap.. Kemudian gue ceritain gimana ending dari film gue ini nantinya.. “Mmm.. Kamu mikir nominal berapa? 50 ato 100?” kata Merio.. Angka yang wah menurut gue.. Karena paling gedepun gue pernah manage duit 4 juta buat bikin film panjang, Juni kemaren.. “Mungkin kamu anggep itu uang yang gede, tapi kalo buat film sekompleks itu, mungkin itu bukan nominal angka yang besar. Aku bener-bener mikirin dan anggep budgeting adalah sisi yang paling perlu diperhatiin.”

Gila.. Gue gak pernah bayangin nominal segitu.. Dan gue juga kaget dia nembak angka segitu.. “Kalo emang kamu butuh kru, mungkin aku bisa bantuin cariin.. Kalo emang mau eksekusi, ayo eksekusi, aku bantu”.. Sebuah statement yang menurut gue bagus.. Karena gue butuh dan perlu orang-orang yang mau bener-bener bekerjasama sama gue.. Gue butuh dukungan, karena waktu pengerjaan project inipun lumayan lama.. Sekaligus gue pengen bener-bener ngasih semua yang gue bisa lakuin buat film ini.. Gue ceritain bahwa temen-temen komunitas gue, ketika gue pertama kali pitching ide ke mereka, yang gue dapet pun bukan wajah-wajah yang punya passion dan gue yakin mereka pikir gue gila..

UTOPIS!

Banyak yang ngira gue mungkin sakit, setelah gue ceritain ide gue itu.. Tapi orang ini, justru malah gue liat tertarik dan siap buat bantuin selesein dan eksekusi cerita ini.. Menurut dia banyak yang harus diriset.. Mulai dari kehidupan, masalah sosial di dalam komunitas itu, bahasa china, dan yang paling penting harus udah ditemuin konflik apa yang mau dibangun sehingga bener-bener masuk dalam kategori film berbau nasionalis…

“Ya kalian memang beda cara dalam melihat dan membuat film.. Dan menurutku, kamu harus berani buat bilang.. Aku punya cerita kayak gini, aku minta bantuan buat jadi ini.. Kalo dia nolak ato sedikit kurang setuju sama cerita ini, toh kamu masih bisa cari yang laen.. Dan masih banyak orang yang mau bantuin.. Jangan takut buat bilang, Oke.. Gak papa..”

No comment buat statement dari Merio itu.. Tapi memang itu, salah satu masalah yang lagi gue hadepin sekarang… Masih cukup susah buat ngelakuinnya..

Obrolan bertambah seru ketika ada seorang lagi yang gue ceritain ideku ini.. dan gue anggep, dia punya wawasan yang cukup ato bahkan jauh lebih banyak dari gue.. Pengalaman sama teknis dia pun, gue salut lah.. Ditambah lagi, dia juga lagi tertarik buat mencoba sinematografi…

by Pandhu Adjisurya (pandhu.adjisurya@gmail.com)

Selasa, 25 Agustus 2009

Brainstorm #1

Selasa, 25 Agustus 2009
@ Jinnemo, Jogjakarta

Ada sebuah pertanyaan yang muncul, sewaktu brainstorm pertama ini dilakuin.. Yaitu, apakah isu tentang etnis dan ras masih cocok ato masih fresh buat diangkat buat masa-masa sekarang.. Isu seperti ini, memang sedikit banyak punya resistensi dan gak nutup kemungkinan juga buat terjadinya gesekan.. Salah sedikit sewaktu mempersepsi suatu masalah, justru bisa jadi imbas atau efek yang mungkin gak kepikiran sekarang..

Ide awalnya dari Sang Saka ini, adalah untuk mengangkat sebuah kehidupan di kawasan Pecinan yang didominasi etnis chinese. Pandangan awalnya, kehidupan di kawasan ini, dipenuhi dengan sikap apatis dan cenderung kurang memperhatikan aspek-aspek kehidupan lain.. Karena mayoritas dari penduduk di sana lebih berpikir bagaimana untuk dapat bertahan hidup.. Sehingga persoalan seperti nasionalisme mungkin akan menjadi persoalan yang kurang penting atau bahkan tidak penting bagai mereka..

Sang Saka...
Digagas oleh Pandhu Adjisurya sebagai sebuah film yang menceritakan tentang kehidupan seorang perempuan muda keturunan yang mempunyai cita-cita untuk dapat menjadi anggota Pasukan Pengibar Bendera.. Walaupun dirinya adalah seorang keturunan yang bukan merupakan seorang pribumi atau Indonesia asli, dirinya tetap bangga dan ingin mengibarkan bendera Indonesia di tempat yang tertinggi dan terhormat di Indonesia...

Itulah gambaran kasar dari film ini nantinya, namun ketika brainstorm tadi bermunculan beberapa ide baru.. Yudo Nugroho memberikan ide bahwa mungkin sudah terlalu pasaran mengangkat sebuah persoalan dari etnis china...

Mungkinkah Sang Saka akan mengangkat cerita kehidupan yang lain?
Nantikan...

SANG SAKA
Bukan sekedar bendera..
Bukan sekedar lambang..
Bukan sekedar simbol..
Namun Bukti dan Kebanggaan

Penggagas :
Pandhu Adjisurya, Gandes P.W, Yohanes Januadi, Yudo Nugroho...

Jumat, 21 Agustus 2009

Quotes #1

Bendera..
Bagi beberapa orang mungkin sebuah benda yang sakral, namun tetap saja ada pula orang yang menganggap bendera sebagai sebuah kain yang sebatas sebagai simbol negara...