Senin, 07 September 2009

Long Road to Temanggung..

6 September 2009

Pagi menyingsing.. Sekitar setengah 6 pagi itu, sms dari Gandes membangunkan orang-orang yang akan berangkat buat riset di Temanggung..
Ada gw, Mike, sama Doank.. merekalah orang-orang yang mengisi kamar gw.. hahahaa..

Kita kumpul di rumah Yudo, daerah Paingan (Maguwoharjo) yang cukup ramai di pagi itu, gara-gara ada drag-drag'an yang cukup rame.. Rencana awal keberangkatan itu jam 06.00 tepat, tetapi akhirnya molor beberapa menit, sekitar setengah jam.. karena insiden helm pecah yang dialami Mike..

Akhirnya, sekitar setengah 7 pagi itu, kami meluncur ke Temanggung.. Yudo bersama Mike menjadi pembuka jalan, disusul Doank sama gw, dan dibelakang ada Merio sama Gandes.. Tiga motor ini bersiap untuk menjelajahi dan mengeksplor kota Temanggung, terutama daerah Parakan yang terkenal dengan kampung China nya..

Setelah perjalanan yang lumayan panjang, sekitar 90 menit harus berlaga melawan deru dan debu asap-asap kendaraan, akhirnya kami berenam sampai di rumah Yudo, untuk transit dan sedikit melepas lelah.. Lumayan, karena kedatangan kami disana disambut dengan sangat baik.. Sarapan dengan makanan khas Temanggung pun tak lama tersaji di hadapan..

Udara segar di sana, benar-benar nyaris membuat kami terlena.. Rasanya, punggung ini ingin segera kembali menempel di lantai untuk kembali ke alam mimpi.. (apa sih..)

Tapi bener, gue ngerasa, kalo udara di sana cocok banget buat produksi.. gak panas, gak terik, sejuk.. tapi jelas ini malah bisa mengganggu produktifitas nantinya.. bayangin aja, kalo kru'nya terlena dengan kenyamanan itu dan akhirnya baru mulai bangun tidur jam 10 (jam kehidupan di Temanggung dimulai jam 10 pagi... hahaha)

Lanjut..
Dari sana, kami langsung menentukan arah dan tujuan selanjutnya.. dan akhirnya kami meluncur ke arah Parakan.. Sekitar setengah jam perjalanan menuju Parakan..

Kami mendapati sebuah rumah dengan arsitektur yang asik, dan menarik.. Dengan pintu-pintu besar.. Ukiran naga, dan striping merah di pintu masuk.. dan akhirnya kami putuskan untuk "berkunjung" dan masuk ke dalem..
Di sana, kami diterima dengan baik.. Seorang pemilik rumah mempersilahkan kami masuk.. Dan akhirnya gw sama Gandes mulai menceritakan maksud kami dateng ke sana..

Mereka bercerita, bahwa Parakan adalah daerah yang berbeda dengan daerah Pecinan yang lain.. Mereka bercerita bahwa disini, semuanya adalah sama.. Mereka semua adalah orang-orang Indonesia, dan hampir tidak ada lagi jarak ataupun batasan antara orang pribumi yang asli maupun keturunan..
Bahkan pemilik rumah tersebut pun adalah pewaris rumah yang sudah kesekian, dan orang tersebut sudah menikah dengan orang pribumi asli..

"Di sini, sudah tidak ada lagi pengelompokkan mas. Yang penting di sini kami hidup rukun, kami juga menikah dengan orang-orang asli, berkeluarga dan memiliki anak seperti saya ini." tutur pemilik rumah tersebut..

Sementara, abang Mike sang Still Photography, sibuk dengan kameranya untuk mengabadikan beberapa spot di rumah tersebut yang khas..

Ketika kami menanyai mengenai filosofi bangunan pun, pemilik rumah tidak mengetahui banyak, namun dia menunjukkan bahwa di bagian atas rumah tersebut, terdapat ukiran-ukiran khas Jawa..
"Itu diatas, sudah bukan benar-benar asli China lagi, kalo saya lihat itu sudah ada campuran sentuhan Jawanya", terangnya sambil menunjuk sebuah ukiran yang mirip pola batik..

Pemilik rumah pun, akhirnya merujuk kita untuk mengunjungi Kuil Tri Dharma.. Di sana mereka meyakini, kami akan mendapat lumayan banyak informasi..
"Kalo yang masih benar-benar menjunjung tinggi adat dan budaya Chinese, mungkin orang-orang Khong Hu Chu bisa lebih menerangkan.", terang ibu yang sudah ditinggal anaknya ini.. Menurutnya sebagai seorang penganut kepercayaan Kristen, persoalan hidup bukan lagi karena budaya, adat-istiadat, namun lebih ke personal dengan Yang Di Atas..

"Kami di sini, bertetangga baik dengan semua orang, dan di Parakan mungkin memang berbeda dengan daerah-daerah Pecinan lain, seperti Semarang yang sudah terpetak.. Kami disini, berkumpul dan tetap saling menghargai dan menjadi bagian dari orang-orang asli di sini." terangnya, menutup pembicaraan ketika kami memutuskan untuk pamit dan bersiap menuju Klentheng Tri Dharma..

Akhirnya gue sama yang laen menuju Tri Dharma.. Apa yang kami dapet di sana? tetep pantengin terus blog Sang Saka..

Agama..
Ras..
Suku Bangsa..
Etnis..
Kepercayaan..
Menjadi satu di bawah Indonesia..
Di bawah Sang Saka Merah Putih..
Bukti Kebanggaan...

by Pandhu Adjisurya (pandhu.adjisurya@gmail.com)

0 komentar:

Posting Komentar